episode: ....... a poetry of LIFE Motigo Webstats - Free web site statistics Personal homepage website counter' /

ReviewReviewReviewReviewKembang-Kembang GenjerApr 14, '07 2:38 PM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:Fransiska Ria Susanti
Begitu mendengar kembang genjer, ingatan langsung terbayang pada sebuah lagu rakyat Banyuwangi, Genjer-Genjer. Tak berhenti di situ, lembaran sejarah Indonesia tahun 65 yang kelam juga menyisakan kisah buruk yang melekat pada lagu ini. Genjer-Genjer, berkat propaganda Orde Baru diasosiasikan dengan sangat buruknya untuk Gerwani, sebuah organisasi underbow PKI beranggotan perempuan.

Menurut literature sejarah Orde Baru, lagu Genjer-Genjer dikumandangkan Gerwani saat ikut menyiksa tujuh Jenderal di Lubang Buaya. Dibilang Gerwani menari-nari telanjang di depan arena penyiksaan itu. Begitu hebatnya propaganda itu kemudian membuat lagu rakyat yang sejatinya bercerita tentang tanaman genjer tanpa makna ideologi pun menjadi idiom yang menakutkan hingga kini. Itulah sejarah…berpihak pada yang berkuasa.

Buku Kembang Kembang Kembang Genjer karya Fransiska Ria Susanti ini memberikan pemahaman baru tentang lagu Genjer-Genjer dan para pelaku Gerwani. Gambaran yang diberikan jauh dari propaganda buruk Orde Baru tentang gerakan perempuan yang bisa dibilang hingga kini belum ada tandingannya dalam hal sepak terjangnya. Buku ini bercerita dengan sangat manusiawi kehidupan perempuan yang direnggut paksa kebebasannya, diperlakukan sewenang-wenang tanpa keadilan.

Dalam buku setebal 169 halaman ini disajikan penderitaan para anggota Gerwani (dan bahkan yang dianggap sebagai Gerwani karena menyukai lagu Genjer-Genjer) saat kisruh politik tahun 65. Ada 13 kisah nyata perempuan yang disajikan dengan gaya bertutur orang ketiga. Meski kisah Gerwani menyimpan lara berkepanjangan, namun Santi (demikian penulis biasa dipanggil), mengungkapkannya dengan begitu manis dan menggugah.

Ada kisah Sumilah, gadis berusia 14 tahun yang menjadi korban salah tangkap, namun mendekam di penjara Kendal, Jawa Tengah selama 14 tahun. Diceritakan pula Mukinem yang kehilangan segalanya dengan penderitaan selama menjadi tawanan. Lalu ada penderitaan Mamik yang bahkan mengalami kekerasan seksual dengan cara yang barbar. Ada Kusnah dipisahkan dari anak-anak dan suaminya. Umi, kader partai buruh yang sekarang sudah sakit-sakitan, Kartinah yang sempat dijuluki Jagal Bilowo, Sutarni yang merupakan isteri pimpinan PKI Nyoto.

Ada pula kisah Sukinah yang sengaja menyamarkan namanya saat diwawancarai, rupanya hingga sekarang hubungannya tidak harmonis dengan sang anak karena masa lalunya, Syamsiah yang melahirkan bayinya di tahanan, Sumini yang hampir seluruh keluarganya terimbas peristiwa pahit tahun 1965, Dalima (nama samran) yang bertahan di penjara hingga 11 tahun, Mujiyati yang juga korban salah tangkap serta kisah Sudjinah mantan pengurus pusat Gerwani.

Yang membuat buku ini kemudian memiliki ruh tersendiri adalah bukan hanya upaya pelurusan sejarahnya, namun sejarah hidup perempuan-perempuan itu dikisahkan Santi bersama dengan kelok kelok khas perempuan yang jatuh cinta, kehilangan kekasih dan orang yang disayanginya.

Santi yang juga seorang kontributor salah satu harian nasional dan sekarang bertempat tinggal di Hong Kong ini menulis dengan gaya jurnalisme investigasi disertai beberapa fakta pendukung yang sengaja ia gali untuk memperkaya tulisannya.

Salut atas kerja keras Santi menyajikan buku ini. Aku tunggu kedatangan Santi berikutnya ke Indonesia. Dan semoga kunjungan berikutnya, sama seperti kunjungan Santi Maret lalu ke Jakarta, membawa oleh-oleh secercah cahaya untuk kami dan tentu saja segudang canda di BFC.
(review ini juga diterbitkan di Majalah Andong edisi 04/1/2007)

donkomo wrote on Aug 28, '07
Saya makan setiap hari kembang genjer karena beli sayur mahal di jkt,beli genjer masih murah bisa dibikin lodeh sama tumis pedes ehm dicampur nasi sama lauk tempe enak juga ya..hehehe...
lifevolution wrote on Aug 28, '07
wah...enak tuh...bagi duong!
wennynoviara wrote on Oct 2, '07
kembang genjer yang kayak gimana sich...??
lifevolution wrote on Oct 2, '07
hmmm..biasanya tumbuh di tempat yang berair dangkal..kaya pematang sawah gitu. bentuknya bulat dan di masyarakat jawa, tanaman ini sering dipakai untuk sayur. daun genjer sepengetahuan saya masih satu sodara sama kangkung gitu dehhh...makanya masih yummy jadi tumisan...
sarisolo wrote on Jan 9
mas aku juga pernah makan genjer. Aku justru belajar masak daun genjer dari warga korban gempa di Klaten, yang ngajari anak-anak. Wah asyik deh..denan peralatan sederhana, setelah kita bekerja membantu korban gempa..lalu masak bersama anak-anak....rasanya asyik. Sebagai kenangan, sekarang di depan rumahku kutanam tanaman genjer....buat hiasan tanaman air...
abankz wrote on Jun 12
sebel juga yaaa,,,kok mp sekarang gk ada pembenaran sejarah..?? sejarah negara Indonesia jd bener2 kabur...BTW, jadi penasaran,,,gimana keadaan orang2 yang dulu menjadi bagian dari tindakan bejat pembantaian atas sekelompok orang2 yang g bersalah..?? apa sesudahnya mereka bs hdp tenang,,?? untuk para pelaku pemerkosa dan pelecehan seksual...apa yang terpatri dlm pkran dan hati mereka kalau melihat ibu, istri dan anak gadisnya.Sedangkan untuk pelaku pembantaian..apakah sesudahnya mereka bisa tidur dengan nyenyak, makan dg lahapnya..??
dan yang paling penting...dalang dari semua kejadian keji itu...apakah disisa umurnya..dia bisa hdp dg tenang,,,jadi penasaran,,,
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help