episode: ....... a poetry of LIFE Motigo Webstats - Free web site statistics Personal homepage website counter' /

[FREEZE FRAMES]

ReviewReviewReviewGarden of HeavenApr 14, '08 2:14 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
"aku tak ingin dia masuk dalam hatiku, karena jika iya, aku akan tamak pada kehidupan. aku akan menghitung waktu setiap hari. dan ingin agar bisa memeluknya terus......."

itu adalah ucapan young jo (diperankan lee eun joo) saat menjauhi oh-sung (diperankan oleh ahn jae wook), laki-laki yang sebenarnya dicintainya. bukan karena young-jo tak mau mendekap oh-sung, tapi karena young-jo sudah divonis kena kanker di perut dan umurnya tak akan lama lagi. dia tak ingin meninggal dalam kepedihan. dan karena dia tahu oh-sung mengalami trauma karena ditinggal meninggal oleh kedua orang tuanya. young-jo tak ingin makin menambah trauma laki-laki itu.

young-jo yang baru saja kehilangan pekerjaanya sebagai make up artist secara tidak sengaja berkenalan dengan oh-sung. karena oh-sung seorang dokter, maka young-jo memintanya untuk membantu agar bisa meninggal dengan tenang. selama ini young-jo tak punya banyak teman dalam hidupnya. jadi tak tahu pada siapa lagi dia meminta bantuan.

oh-sung mengajak young-jo dirawat di rumah sakit yang dikelolanya. rumah sakit itu memang khusus merawat orang-orang yang sedang menghitung hari kematiannya. dan justru di sanalah young-jo merasa bahwa dia harus menjauhi oh-sung.

young-jo, perempuan bersemangat yang tahu bahwa umurnya tidak akan lama, mencoba membuat hidupnya penuh makna. dia ingin agar orang bisa mengingat dirinya saat dia sudah tak bernapas lagi. tapi tanpa melibatkan hatinya, agar ia tidak akan merasa berat meninggalkan dunia ini.

justru di saat itu, oh-sung menyadari bahwa ia sangat mencintai young-jo. "tak peduli sehari atau bahkan satu jam sebelum dia meninggal, aku ingin bersama young-jo lagi," begitu ucapnya. akhirnya young-jo pun menyadari ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama oh-sung.

hari-hari terakhirnya diisi berdua dengan oh-sung. kalimat yang keluar dari bibirnya adalah, "kehidupan adalah bersamamu, kematian adalah tidak bersamamu...karena itu aku takut pada kematian..."

***
catatan saya:

film genre drama percintaan ala korea, banyak sekali yang mendayu dan indah. menegaskan bahwa cinta adalah sesuatu yang paling indah di dunia. ciri lainnya adalah cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga kepedihan. air mata adalah buah cinta.

dan di garden of heaven ini juga sarat keindahan cinta dan air mata. meski unsur dramatisasinya tak sehebat a moment to remember. masih ada bluper-bluper cerita yang mengagregasi jalan cerita, sehingga membuat penonton bertanya.

tapi sebagai area belajar cerita drama, bolehlah fim ini diputar. karena memang ini tujuan saya beberapa kali nonton film korea. mereka sering ciamik bikin dramatisasinya. menyentuh dan membawa pesan lewat kata-katanya.

hmmmm, nonton apa lagi ya? :p


ReviewReviewReviewReviewa moment to rememberOct 15, '07 3:39 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
film korea? hmmm...yang saya tahu penuh keromantisan..dan benar juga..inilah salah satunya.

a moment to remember adalah sebuah kisah drama percintaan mengharukan yang menyelipkan sebuah pesan bahwa cinta itu penuh ujian dan ketika orang yang kita cintai sedang sakit, maka kekuatan cinta pun kembali diuji.

su jin (song ye-jin), perempuan, bekerja sebagai designer. ceria, cantik dan pintar. namun dibalik itu ternyata memiliki kelemahan: pelupa. pertemuannya dengan chul coo (jung woo-sung) terjadi di depan mini market. mereka hampir saja bertabrakan. su jin lupa membawa minuman kaleng yang dibelinya di meja kasir. lalu kembali memasuki mini market dan chul coo keluar dengan minuman kaleng yang sama. su jin mengira chul coo mengambil minumannya, karena dia tak melihat minuman yang dibelinya di meja kasir. dengan sok yakin, su jin mengambil minuman dari tangan chul coo dan meminumnya di depan chul coo.

su jin baru menyadari bahwa minuman kaleng miliknya masih tersimpan di meja kasir ketika sang kasir memberikan padanya kemudian.

su jin bertemu lagi dengan chul coo beberapa waktu kemudian. meskipun awalnya dihinggapi rasa malu, namun chul coo yang memiliki sifat cool dan pendiam membuat su jin pun jatuh cinta.

su jin dan chul coo menikah. happy ending? belum....ini masih awal kebahagiaan. seiring waktu, su jin menunjukkan gejala-gejala aneh. awalnya hanya jika emosionalnya terganggu, dia lalu lupa segalanya. lupa apa yang sedang dilakukannya. makin lama, dia pun makin melupakan banyak hal, bahkan jalan pulang ke rumahnya sendiri.

su jin divonis alzheimer, penyakit yang sedikit demi sedikit menghapus ingatan di otaknya. konflik pun dimulai. chul coo yang melihat istrinya digerogoti hilang ingatan, berusaha sekuat mungkin membantu su jin. hampir seluruh rumahnya diberi berbagai catatan untuk mengingatkannya. namun itu tak berarti banyak. ketika sedang kambuh, su jin bahkan tak sadar buang air kecil sambil berbicara di depan banyak orang.

moment-moment mengharukan mulai bermunculan ketika chul coo dengan cintanya pada su jin tetap ingin merawat su jin. namun, su jin sangat terbebani dengan penyakitnya. dia merasa sangat bersalah, karena lupa pada suaminya. lupa bahwa dia punya cinta pada suaminya. dan su jin pun akhirnya memutuskan untuk pergi.

ingatan su jin belum sepenuhnya terblokade oleh alzheimer. suatu kali, saat ingatannya kembali, dia menulis surat untuk chul coo. berbekal cap pos dari surat itu, chul coo mencari su jin yang ternyata memilih tinggal di sebuah rumah rehabilitasi.

meski tak ingat, chul coo merencanakan sesuatu untuk istrinya. su jin diajak ke tempat pertemuan pertama mereka, di depan mini market. di sana sudah berkumpul seluruh keluarga yang juga menanti su jin. adegan terakhir ditutup dengan moment kembalinya ingatan su jin untuk sejenak. su jin memeluk chul coo, mereka pergi berdua mengendarai mobil, chul coo mengantar su jin kembali ke rumah rehabilitasi.

"saranghae".... kata chul coo pada su jin...yang artinya "aku mencintaimu"...dan su jin pun tersenyum dalam pelukan chul coo...entah sampai kapan hingga alzheimer merenggutnya kembali.

di korea, film ini sudah diproduksi pada tahun 2004 lalu. film ini sempat membuat mata saya berkaca-kaca lewat adegan dan dialognya (halah!!). satu film yang memiliki cerita hampir serupa adalah film hollywood berjudul notebook.


ReviewReviewReviewReviewDUNIA PARARELApr 27, '07 2:35 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Romance
Author:Micki Mahendra
"Dan di dunia yang lain itu juga ada Vian dan Medi," kata Medi sambil mendekap tangan Vian dengan erat di meja. Ia mengangkatnya sehingga tangan Vian dan tangannya menggenggam di depan wajah mereka.

"Tapi ceritanya beda. Di sana kita benar-benar bersama..."

"Jauh dari sini?" tanya Vian.

"Jauh, kita tinggal di pinggir pantai, pasirnya putih, lautnya biru, gak ada apa-apa di sana, kecuali kamu."

"Dan, pada hari baik kadang-kadang kita melihat bintang seperti ditaruh satu per satu untuk kita," kata Vian.

"Di tempat itu matahari dan bulan bergantian menemani kita sampai akhirnya mereka mengenal nama kita."

"Apa kerja kita di sana?"

"Aku tetap menulis, dan kamu tetap membuat film dari buku yang aku tulis bersamamu."

"Apa ceritanya, Med?"

"Apa aja, tentang dua orang yang menemukan cintanya di sebuah airport, misalnya?"

"Happy ending?"

"Selalu"

Vian tersenyum, mata tak pernah putus dari pandangan Medi.

"Adakah tempat itu, Med?"

"Ada, Vi, kamu cuma harus percaya kalau itu ada."

"Gimana akhirnya Vian dan Medi di dunia sana?" tanya Vian lagi.

"Mereka terus membuat puluhan buku dan film tentang dunia ini, tentang dua orang tadi, sampai akhirnya mereka meninggal tua bersama bulan dan matahari yang mengiringi kepergian mereka."



Mereka saling mencintai di waktu dan tempat yang keliru. Tetapi ada dunia lain, ada waktu dan tempat lain, yang membereskan segala yang keliru.
---

Rangkaian kalimat di atas saya cuplik dari buku berjudul Dunia Pararel. Buku karangan Micki Mahendra ini sebenarnya terbitan tahun 2006 dan sudah tuntas saya baca di tahun yang sama. Tapi cerita uniknya membuat saya tak pernah lupa akan buku ini.

Tokoh utama perempuannya bernama Vian seorang filmmaker yang secara kebetulan berkenalan dengan Medi yang berprofesi sebagai penulis di bandara. Meski tujuan mereka berbeda, namun perjumpaan singkat di ruang tunggu bandara itu seperti sebuah serendipity. Terlalu banyak pertemuan kebetulan yang terjadi.

Dan kebetulan paling besar yang harus dihadapi mereka berdua adalah dipertemukan di sebuah pekerjaan besar, membuat sebuah film. Vian jadi sutradaranya dan Medi kemudian menjadi scriptwriter yang akan membantunya. kebetulan yang kali ini, membawa mereka kemudian menjalin kisah yang cuma bisa dipahami Vian dan Medi...kisah tanpa suara, namun sesungguhnya mengukir beribu rasa indah.

Rumit dan melelahkan...bukan hanya karena harus memendam rasa. Namun, sebuah kenyataan harus mereka terima..mereka bertemu di kebetulan yang keliru..sebuah kenyataan yang menulis bahwa Medi akan menikah dengan tunangannya di Belanda dan Vian sudah punya Gathan dan Vito, anak mereka yang berumur satu setengah tahun..

Kenyataan boleh menulis banyak hal...tapi yang Vian dan Medi punya hanyalah satu: Dunia Pararel

ReviewReviewReviewReviewKembang-Kembang GenjerApr 14, '07 2:38 PM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:Fransiska Ria Susanti
Begitu mendengar kembang genjer, ingatan langsung terbayang pada sebuah lagu rakyat Banyuwangi, Genjer-Genjer. Tak berhenti di situ, lembaran sejarah Indonesia tahun 65 yang kelam juga menyisakan kisah buruk yang melekat pada lagu ini. Genjer-Genjer, berkat propaganda Orde Baru diasosiasikan dengan sangat buruknya untuk Gerwani, sebuah organisasi underbow PKI beranggotan perempuan.

Menurut literature sejarah Orde Baru, lagu Genjer-Genjer dikumandangkan Gerwani saat ikut menyiksa tujuh Jenderal di Lubang Buaya. Dibilang Gerwani menari-nari telanjang di depan arena penyiksaan itu. Begitu hebatnya propaganda itu kemudian membuat lagu rakyat yang sejatinya bercerita tentang tanaman genjer tanpa makna ideologi pun menjadi idiom yang menakutkan hingga kini. Itulah sejarah…berpihak pada yang berkuasa.

Buku Kembang Kembang Kembang Genjer karya Fransiska Ria Susanti ini memberikan pemahaman baru tentang lagu Genjer-Genjer dan para pelaku Gerwani. Gambaran yang diberikan jauh dari propaganda buruk Orde Baru tentang gerakan perempuan yang bisa dibilang hingga kini belum ada tandingannya dalam hal sepak terjangnya. Buku ini bercerita dengan sangat manusiawi kehidupan perempuan yang direnggut paksa kebebasannya, diperlakukan sewenang-wenang tanpa keadilan.

Dalam buku setebal 169 halaman ini disajikan penderitaan para anggota Gerwani (dan bahkan yang dianggap sebagai Gerwani karena menyukai lagu Genjer-Genjer) saat kisruh politik tahun 65. Ada 13 kisah nyata perempuan yang disajikan dengan gaya bertutur orang ketiga. Meski kisah Gerwani menyimpan lara berkepanjangan, namun Santi (demikian penulis biasa dipanggil), mengungkapkannya dengan begitu manis dan menggugah.

Ada kisah Sumilah, gadis berusia 14 tahun yang menjadi korban salah tangkap, namun mendekam di penjara Kendal, Jawa Tengah selama 14 tahun. Diceritakan pula Mukinem yang kehilangan segalanya dengan penderitaan selama menjadi tawanan. Lalu ada penderitaan Mamik yang bahkan mengalami kekerasan seksual dengan cara yang barbar. Ada Kusnah dipisahkan dari anak-anak dan suaminya. Umi, kader partai buruh yang sekarang sudah sakit-sakitan, Kartinah yang sempat dijuluki Jagal Bilowo, Sutarni yang merupakan isteri pimpinan PKI Nyoto.

Ada pula kisah Sukinah yang sengaja menyamarkan namanya saat diwawancarai, rupanya hingga sekarang hubungannya tidak harmonis dengan sang anak karena masa lalunya, Syamsiah yang melahirkan bayinya di tahanan, Sumini yang hampir seluruh keluarganya terimbas peristiwa pahit tahun 1965, Dalima (nama samran) yang bertahan di penjara hingga 11 tahun, Mujiyati yang juga korban salah tangkap serta kisah Sudjinah mantan pengurus pusat Gerwani.

Yang membuat buku ini kemudian memiliki ruh tersendiri adalah bukan hanya upaya pelurusan sejarahnya, namun sejarah hidup perempuan-perempuan itu dikisahkan Santi bersama dengan kelok kelok khas perempuan yang jatuh cinta, kehilangan kekasih dan orang yang disayanginya.

Santi yang juga seorang kontributor salah satu harian nasional dan sekarang bertempat tinggal di Hong Kong ini menulis dengan gaya jurnalisme investigasi disertai beberapa fakta pendukung yang sengaja ia gali untuk memperkaya tulisannya.

Salut atas kerja keras Santi menyajikan buku ini. Aku tunggu kedatangan Santi berikutnya ke Indonesia. Dan semoga kunjungan berikutnya, sama seperti kunjungan Santi Maret lalu ke Jakarta, membawa oleh-oleh secercah cahaya untuk kami dan tentu saja segudang canda di BFC.
(review ini juga diterbitkan di Majalah Andong edisi 04/1/2007)

ReviewReviewReviewReviewSIHIR CINTAApr 14, '07 2:33 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Teens
Author:Miranda
Buku ini sudah lama pengen kubeli. Penasaran dengan karya teman sendiri, Miranda.

Aku kenal Mia, demikian Miranda biasa dipanggil, melalui email terus berlanjut ke SMS. Dari yang bisa kubaca melalui tulisannya di email dan SMS, Mia adalah pribadi yang mengasyikkan. Jadilah aku dan Mia “berteman” meski masih terbatas di dunia maya, tapi kami janji untuk ketemuan suatu hari nanti, menyesap secangkir obrolan katanya.

(Maaf buat Mia, aku baru dapet bukunya sekarang)

Sihir Cinta…..
Di buku ini aku berkenalan dengan tokoh Rhein, perempuan yang mempunyai kemampuan supranatural unik. Bisa melihat kejadian yang akan datang. Rhein digambarkan Mia seperti witch betulan, karena punya kucing bernama Nimbus yang bisa bercakap-cakap dengannya.

Rhein adalah perempuan yang bisa kubilang asosial. Pergaulannya terbatas dan seringkali mendengarkan dirinya sendiri untuk segala keputusan hidupnya. Dalam hal ini Rhein masih kebingungan untuk mempercayai perasaannya sendiri atau vision tentang kejadian masa depan. Tak ada tempat mengadu. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Rhein diceritakan hanya punya tante dan om. Rhein seperti sendirian di dunia ini. Hanya Nimbus yang bisa diajaknya berbicara tanpa perlu malu.

Karena kemampuannya itu, Rhein terjebak dalam berbagai persoalan yang melilit pikirannya. Danke, gadis popular di kampus, tak henti-hentinya berusaha menjatuhkan Rhein karena pernah sakit hati. Cowok yang ditaksir Danke ternyata lebih menyukai Rhein. Danke sering mengejek Rhein atas kemampuannya. Namun beberapa kali Rhein berhasil membalas telak lecehan Danke.

Belum lagi soal cowok yang sepertinya jadi anti thesis dalam kehidupan Rhein. Bukan, bukan karena Rhein tidak menarik. Namun, secara tidak langsung kemampuannya dalam melihat masa depan ikut berpengaruh dalam menjalin hubungan dengan laki-laki dan akibatnya, Rhein justru terpuruk dalam sakit hati.

Rhein bahkan terlibat cinta segitiga dengan sahabatnya sendiri, Mita. Semuanya gara-gara kemampuan Rhein. Kemampuan yang terus memberikannya visi tentang kejadian mendatang dan dia sangat mempercayainya. Namun, di akhir buku, Rhein belajar sesuatu tentang mengelola hidup dan kemampuannya. Aku pulang suka endingnya.

Mia begitu cantik merangkai kejadian demi kejadian dengan halusnya. Sehingga tidak nampak semua jalan hidup yang selalu bertemu “kebetulan”. Continuity karakter Rhein juga terus terjaga. Salut buat Mia atas novel kedua-nya ini. Meski melalui SMS, Mia bilang sekarang ini susah nge-novel, tapi aku berharap Mia masih bisa meluangkan waktunya untuk terus berkarya.

Dan seperti kata Mia, sebuah kebetulan yang hampir sempurna ketika karakter dan kemampuan Rhein dalam Sihir Cinta serupa denganku. Kok bisa ya, Mi?

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help